Monday, October 24, 2016

Resensi Buku: Demokrasi ala Tukang Copet

Judul Resensi Buku:
Sindiran Jadi Perenungan, untuk Mengenal Jati Diri!
(Resensi Buku: Demokrasi ala Tukang Copet) -- Sesungguhnya, dengan sindiran dan perenungan ini, Kang Sobary ingin mengajak kita pulang ke jadi diri kita.

Mohamad Sobary, siapa yang tak kenal sosok yang telah mewarnai Kantor Berita pelat merah selama lima setengah tahun ini? Ya, sosok yang akrab disapa Kang Sobary ini, adalah salah satu budayawan dan esais terkemuka di Indonesia. Lahir di Bantul, Yogyakarta, 7 Agustus 1952, Kang Sobary dulu bercita-cita menjadi ahli agama. Untuk mewujudkan impiannya, dia berhasrat sekolah di PGA dan IAIN. Namun, nasib membawanya ke Sekolah Pekerjaan Sosial Atas. Studi selanjutnya ialah di Departemen Sosial Universitas Indonesia. Kemudian, dia kuliah di Monash, Australia. Sepertinya gak cukup hanya membaca resensi di blog Best-seller Books ini, miliki juga bukanya.

Resensi Buku: MULUNG BENTANG

Judul Resensi Buku:
Asyiknya Fiksimini Episode Kedua
(Resensi Buku: Mulung Bentang) -- Di antara yang terus produktif menulis cerita pendek dalam bahasa Sunda yang kemudian disebut dengan fiksimini atau fikmin adalah Kang Dudung Ridwan, yang karya-karyanya kemudian dibukukan dalam “Bulan Buleud dina Jandela” (Maret 2013) yang isinya terdiri atas seratus lebih fiksimini dan “Mulung B√©ntang” (Mei 2016) ada lebih dari 70 fiksimini.

Dudung Ridwan alias Kang Dudung lahir di Bandung 49 tahun yang lalu. Kang Dudung tertarik dengan sastra sejak kuliah di Fakultas Sastra Unpad (1991). Dari sejak mahasiswa, sering tulis-menulis di koran dan pernah menjadi wartawan di Mandala Minggu (1993). Capek menjadi wartawan –jeung gajihna leutik di koran leutik mah—pindah ke Penerbit ITB sampai dengan 1999 sambil terus melanjutkan kuliah di Fisip Unpad. Sejak itu, pindah kerja lagi ke Penerbit Mizan sampai sekarang, menjadi editor bahasa.

Jadi, “Mulung Bentang” merupakan kumpulan fiksimina karya Kang Dudung yang terbit menjadi buku kedua setelah buku kumpulan fiksimina pertamanya, “Bulan Buleud dina Jandela”. Menurut peresensi, memang menyenangkan membaca fiksimini bahasa Sunda. Berbeda dengan fiksiminia bahasa Indonesia yang panjangnya terbatas sebanyak 144 karakter. Beda lagi dengan cerita pendek basa Sunda yang hampir mirip pendeknya dengan fiksimini bahasa Indonesia tapi berbeda aturannya. Pengin tahu apa itu fiksimini, Anda bisa baca karya kumpulan fiksimini sang penulis di blog Best-seller Books ini.

Resensi Buku: Jokowi, Beragama dalam Tindakan

Judul Resensi Buku:
Tindakan Lebih Fasih dari Lisan dan Tulisan
(Resensi Buku: Jokowi, Beragama dalam Tindakan) -- Dia terlahir sebagai Muslim, bukan abangan, bukan pula ateis. Muslim yang aplikatif, bukan sekadar normatif. Agama tidak semata ada dalam kitab suci dan tempat-tempat ibadah, tapi ada di sekujur tubuh dari pikiran di kepala, lisan di mulut, hati di dada, kemudian melahirkan perbuatan sebagai atsari sujud.

Seorang pemimpin lahir sesuai dengan zamannya. Namun kesesuaian itu tidak muncul dengan sendirinya. Ibarat sebuah keris ia ditempa dalam api dan penderitaan, sebelum akhirnya diisi pamor. Kesejukan dalam pikir dan perbuatan yang dibawa Kanjeng Rasul Muhammad saw, menjadi oase di tengah kaum jahiliah Quraish saat itu. Tapi oase itu tidak muncul dengan sendirinya. Muhammad telah ditempa dalam berbagai kondisi. Ketika kemunafikan menjadi Tuhan baru, Muhammad tampil dengan bersikukuh memegang teguh kejujuran. Sehingga pada akhirnya diakui oleh semua—termasuk kaum munafikin—dengan menyematkan gelar pada pemuda Muhammad sebagai al-amin. Bagaimana menurutmu, apakah tamsil yang tayang di blog Best-seller Books ini mewakili gambaran sang tokoh?